Sumenep, Madura Update — LESBUMI PCNU Sumenep bersama Penerbit Literatus menggelar diskusi buku Masalembu: Suara dari Laut Seberang, Sabtu (22/8/2026).
Diskusi yang menghadirkan penulis Mahéng, A. Dadiri Zubairi dan Iskandar Dzulkarnain sebagai penanggap, serta Ummul Hasanah sebagai moderator tersebut membahas kehidupan masyarakat Masalembu, identitas Madura, stereotip, hingga persoalan pembangunan wilayah kepulauan.
Mahéng mengatakan, buku tersebut lahir dari cerita masyarakat dan pengalaman perjalanannya di Masalembu. Ia ingin merekam berbagai kisah kehidupan masyarakat yang selama ini kerap tertutup oleh stigma negatif.
“Sejelek-jeleknya tulisan adalah sekuat-kuatnya ingatan,” ujar Mahéng.
Melalui pendekatan journalism feature, buku tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat Masalembu yang terdiri dari berbagai kelompok, di antaranya Madura, Bugis dan Mandar.
Menurut Mahéng, laut bukan sekadar pemisah antardaerah, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai budaya.
Sementara itu, Iskandar Dzulkarnain menilai buku tersebut penting untuk menghadirkan perspektif berbeda mengenai masyarakat Madura dan kepulauan. Ia juga menyoroti sejumlah persoalan pembangunan di wilayah kepulauan, seperti akses kesehatan, listrik, lingkungan dan pengelolaan sumber daya laut.
Ia menilai pembangunan kepulauan perlu melihat kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat, bukan semata menggunakan perspektif daratan.
Melalui buku tersebut, Mahéng berharap masyarakat mengenal Masalembu berdasarkan kondisi nyata, bukan hanya dari cerita atau stigma yang berkembang.
“Datang dan lihat sendiri. Jangan hanya berdasarkan katanya,” pesannya. (ai/kara)














