9

Lesbumi PCNU Sumenep Dorong Kesenian Jadi Ruang Gagasan dan Penguatan Budaya Lokal

  • Bagikan
Lesbumi PCNU Sumenep Dorong Kesenian Jadi Ruang Gagasan dan Penguatan Budaya Lokal
Lesbumi PCNU Sumenep Dorong Kesenian Jadi Ruang Gagasan dan Penguatan Budaya Lokal

Sumenep, Madura Update – Kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Sumenep dinilai perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas komunitas agar tidak hanya berkembang sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga menjadi wadah lahirnya gagasan, pengetahuan, dan gerakan kebudayaan yang berkelanjutan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Malem Salekoran yang digelar Lesbumi PCNU Sumenep di lantai II Kantor PCNU Sumenep, Minggu (7/6/2026).

Forum yang rutin diselenggarakan setiap tanggal 21 Hijriah itu mengangkat tema “Titik Koma Kesenian Sumenep” dan menghadirkan sejumlah tokoh yang selama ini aktif dalam pengembangan seni dan budaya daerah.

Ketua PCNU Sumenep, KH Md Widadi Rahim, menilai geliat kesenian di Kota Keris sebenarnya cukup hidup. Namun, berbagai komunitas seni masih cenderung bergerak secara terpisah sehingga potensi besar yang dimiliki belum sepenuhnya terbangun menjadi kekuatan bersama.

Baca Juga :  Lesbumi Sumenep Akan Gelar Festival Sapparan Budaya di Tiga Lokasi, Berikut Jadwalnya

Menurutnya, sinergi antarpegiat seni menjadi faktor penting untuk memperluas dampak kesenian bagi masyarakat. Ia menegaskan, dalam pandangan Nahdlatul Ulama, seni bukan sekadar medium ekspresi, melainkan juga sarana menyampaikan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan secara lebih dekat dan mudah diterima publik.

“Kesenian memiliki peran strategis sebagai media dakwah dan penyebaran nilai-nilai Aswaja yang membumi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Tenaga Ahli Bupati Bidang IPTEK dan Kebudayaan, Ibnu Hajar, menyoroti eratnya hubungan antara perkembangan budaya Sumenep dengan tradisi pesantren.

Menurutnya, pesantren selama ini menjadi salah satu pilar penting yang turut membentuk wajah kebudayaan daerah.

Ia menjelaskan, banyak aktivitas seni dan budaya di Sumenep lahir dari lingkungan yang memiliki kedekatan dengan tradisi pesantren. Karena itu, upaya pelestarian dan pengembangan budaya tidak bisa dilepaskan dari akar sejarah tersebut.

Baca Juga :  Dua Kasat dan Dua Kapolsek Polres Sumenep Dimutasi

Ibnu juga mengulas perjalanan Lesbumi di Sumenep yang memiliki keterkaitan dengan lahirnya berbagai komunitas seni pada masa lalu. Salah satunya melalui ruang-ruang kreatif yang pernah menjadi titik temu para seniman dan budayawan daerah.

Menurutnya, Lesbumi saat ini memiliki modal besar berupa warisan gagasan dan karya dari generasi sebelumnya. Tantangannya adalah bagaimana mengelola warisan tersebut agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat saat ini.

Sementara itu, Ketua Lesbumi PCNU Sumenep, Moh Junaidi menegaskan, berbagai masukan yang muncul dalam diskusi akan menjadi bahan refleksi untuk menentukan arah gerakan organisasi ke depan.

Ia menilai kesenian dan kebudayaan tidak boleh dipandang hanya sebagai hiburan atau tontonan. Lebih dari itu, keduanya merupakan ruang penting untuk memproduksi ide, pemikiran, dan karya yang dapat memberi kontribusi bagi pembangunan masyarakat.

Baca Juga :  JJS Santri 2023, Wabup Sumenep : Terima Kasih Para Santri

Karena itu, Lesbumi berkomitmen mengambil peran sebagai fasilitator yang mempertemukan para pelaku seni, budayawan, akademisi, hingga masyarakat umum dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

“Melalui forum seperti Malem Salekoran, kami ingin menghadirkan ruang belajar bersama sekaligus proses transfer pengetahuan agar semangat berkesenian dan berkebudayaan di Sumenep terus tumbuh,” kata Junaidi.

Kegiatan tersebut menjadi penegasan bahwa penguatan kebudayaan tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan semata. Dibutuhkan ruang dialog, pertukaran gagasan, dan kolaborasi yang mampu menjaga keberlanjutan ekosistem seni dan budaya di Kabupaten Sumenep. (ai/kara)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *