Daerah  

Fenomena Likuifaksi Ancam Tiga Daerah di Jatim

Fenomena Likuifaksi Ancam Tiga Daerah di Jatim
Fenomena Likuifaksi Ancam Tiga Daerah di Jatim

Surabaya, MaduraUpdate.com Fenomena likuifaksi atau pencairan tanah disebut berpotensi terjadi di tiga daerah di Jawa Timur.

Hal ini diungkap oleh Kabid Kedaruratan-Logistik BPBD Jatim, Sriyono. Ia menuturkan, ada tiga kabupaten di Jatim yang berpotensi terjadi bencana pencairan tanah atau likuifaksi.

Tiga kabupaten yang berpotensi terjadi likuifaksi yakni  Kabupaten Banyuwangi, Lumajang dan Jember.

Sriyono mengungkapkan, likuifaksi atau pencairan tanah ini seperti fenomena tanah ambles yang pernah terjadi di Palu pada 2018 lalu.

“Jadi likuifaksi ini baru masuk di potensi bencana di Jatim,” katanya sebagaimana dilansir dari detikcom.

Baca Juga :  KPU Sumenep Buka Pendaftaran Petugas KPPS, Cek Tanggal Pendaftaran dan Honornya

Sriyono mengaku, pihaknya sudah mengirimkan surat ke kabupaten terkait atas potensi terjadinya likuifaksi tersebut.

“Likuifaksi itu disebabkan adanya cekungan lempengan yang mendekati laut terjadi pergeseran, lah menjadi perputaran. Di situlah letak likuifaksi hanya berpotensi 3 tempat itu tadi, bukan keseluruhan Jatim. Jadi itu hasil kajian setelah terjadinya Palu,” jelasnya.

Selain itu, Sriyono juga membeberkan ada bencana kekeringan, meski Jatim mulai peralihan dari musim panas ke hujan. Seperti di daerah Lekok, Pasuruan, kemudian di Batu Putih, Sumenep.

Baca Juga :  Bulan Bung Karno di Sumenep, ASN dan BUMD Wajib Pakai Kopyah Hitam

“Secara total kemarin kekeringan ada di 26 kabupaten di 513 desa. Tapi di satu kabupaten, belum tentu semua desa kekeringan. Seperti di Trenggalek kemarin banjir, itu sebelumnya kekeringan. Anomali cuaca ini juga mengubah status itu,” bebernya.

“BPBD Jatim siaga 24 jam melalui Pusdalops. Kesiapan logistik juga siap kalau sewaktu-waktu kabupaten/kota membutuhkan bantuan,” sambungnya.

Sementara Kasi Kedaruratan-Logistik BPBD Jatim Heru Wibowo menambahkan, untuk bencana likuifaksi hanya potensi. Artinya, bisa terjadi atau tidak.

“Jadi ini potensi, bukan prediksi ya. Potensi bisa terjadi atau tidak,” pungkasnya. (kara)

Baca Juga :  NU Sumenep Launching Hari Santri 2023, Keselamatan Lingkungan Jadi Atensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *